AWAM Discover – Sekitar dua puluh orang melakukan protes di luar Spheres milik Amazon di Seattle pada Kamis malam, menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan perusahaan dalam menyediakan teknologi untuk Israel. Aksi demonstrasi ini dipicu oleh dugaan bahwa perusahaan tersebut berkontribusi pada apa yang disebut sebagai genosida di Gaza.
Protes ini ditujukan untuk mengganggu sebuah acara yang diduga dihadiri oleh eksekutif Amazon, pemimpin negara bagian dan lokal, serta perwakilan dari pemerintah Australia, yang berlangsung di salah satu lantai atas Spheres, menjelang pertandingan Piala Dunia antara Amerika Serikat dan Australia. Para pengunjuk rasa, yang dikenal sebagai Amazon Worker Intifada, menganggap pertemuan tersebut signifikan mengingat konteks politik yang sedang berkembang.
Namun, Amazon menjelaskan acara tersebut sebagai kegiatan untuk anggotanya dari komunitas bisnis dan olahraga Seattle, serta karyawan Amazon yang merayakan Piala Dunia. Dalam pernyataan resminya, perusahaan tersebut menegaskan bahwa pertemuan yang diduga dihadiri oleh para eksekutif telah berakhir sebelum protes dimulai, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai siapa saja yang hadir.
Menanggapi aksi tersebut, juru bicara Amazon, Montana MacLachlan, menyatakan bahwa perusahaan menghormati hak individu untuk mengajukan protes secara damai. Ia menegaskan komitmen Amazon untuk menjadi warganegara korporat yang bertanggung jawab di wilayah Puget Sound dan di setiap komunitas yang mereka layani.
Latar Belakang Protes
Aksi protes ini merupakan bagian dari usaha yang lebih besar untuk meningkatkan tekanan pada pimpinan Amazon terkait dengan proyek-proyek tertentu, termasuk Project Nimbus. Ini adalah kontrak senilai $1,2 miliar yang dilaksanakan bersama Google pada tahun 2021 untuk menyediakan layanan cloud dan kecerdasan buatan kepada pemerintah Israel serta pihak militer dan pemasok senjata terkait.
Para pengunjuk rasa memegang alat pengeras suara dan tulisan yang menggambarkan eksekutif Amazon sebagai penjahat perang, sambil mengelilingi bangunan dengan bendera Palestina dan alat musik, terlibat dalam seruan seperti, “Katakan dengan keras dan jelas — Amazon adalah pengeksplorasi perang.” Aksi ini tentu saja menarik perhatian para pejalan kaki, termasuk pekerja Amazon dan penggemar sepak bola yang berada di sekitar lokasi protes.
Bandeer besar yang dibawa oleh para demonstran bertuliskan “Pertemuan Penjahat Perang Amazon di Sini.” Selain itu, terdapat juga poster yang menggambarkan CEO Amazon, Andy Jassy, dan CEO AWS, Matt Garman, dengan darah di tangan mereka dan membawa apa yang nampak seperti bom. Aksi demonstrasi ini diharapkan dapat memicu diskusi lebih luas tentang keterlibatan perusahaan-perusahaan teknologi dalam konflik yang berdampak pada HAM.
Respon Terhadap Protes
Setelah berunjuk rasa selama lebih dari satu jam di sekitar area Spheres, para demonstran melanjutkan aksi mereka ke sisi Lenora Street, di mana mereka melepaskan balon dengan suara bising yang diharapkan dapat menarik perhatian lebih banyak orang ke arah pertemuan yang berlangsung di dalam. Salah satu pemimpin protes, Ahmed Shahrour, seorang insinyur perangkat lunak asal Palestina yang dipecat oleh Amazon pada Oktober lalu, menjelaskan bahwa protes ini bertujuan untuk menyuarakan penentangan terhadap perusahaan yang dianggap berkolaborasi dalam tindakan yang melanggar hak asasi manusia.
Shahrour mengklaim pemecatannya merupakan tindakan balasan karena kritiknya terhadap keterlibatan Amazon dengan Israel. Dalam pernyataan di hari berikutnya, juru bicara Amazon menanggapi insiden ini dengan menegaskan bahwa perusahaan tidak menoleransi diskriminasi atau perilaku ancaman di tempat kerja.
Aksi serupa juga dilakukan oleh kelompok lain, No Azure for Apartheid, yang telah berprotes lebih dari satu tahun terhadap Microsoft terkait hubungan mereka dengan Israel. Hal ini menandakan sebuah tren di mana para pekerja teknologi secara aktif mengeksplorasi dan mengekspresikan keberatan mereka terhadap kebijakan perusahaan yang dianggap merugikan hak asasi manusia.
Kesimpulan dari Perkembangan Berita Ini
Protes yang berlangsung di luar Spheres Amazon bukan hanya sekadar demonstrasi damai, tetapi juga bagian dari agenda lebih besar untuk menarik perhatian publik terhadap isu-isu terkait hak asasi manusia di Gaza. Ketegangan antara tanggung jawab sosial perusahaan dan kepentingan bisnis semakin mengemuka seiring dengan semakin luasnya aksi protes oleh kelompok-kelompok pekerja dan masyarakat sipil.
Keterlibatan perusahaan teknologi besar dalam konflik geopolitik menimbulkan pertanyaan mendalam tentang etika bisnis dan keadilan sosial. Dalam hal ini, suara dari dalam komunitas pekerja, seperti yang ditunjukkan oleh para demonstran ini, menjadi kunci dalam mendorong perubahan yang lebih substansial dalam kebijakan perusahaan terhadap isu-isu yang melanggar hak asasi manusia di seluruh dunia. Protes ini menunjukkan bahwa aktivisme pekerja di sektor teknologi semakin menguat, mempengaruhi arah kebijakan perusahaan dan mendorong dialog mengenai peran teknologi dalam konflik yang berkepanjangan.

